rsud-tpikepriprov.org

Loading

kuning rumah sakit

kuning rumah sakit

Kuning Rumah Sakit: Memahami Penyebab, Diagnosis, dan Pengelolaan Jaundice pada Bayi Baru Lahir

Kuning, atau jaundice, adalah kondisi umum pada bayi baru lahir yang ditandai dengan menguningnya kulit dan bagian putih mata (sklera). Kondisi ini terjadi karena peningkatan kadar bilirubin dalam darah, suatu pigmen kuning yang dihasilkan dari pemecahan normal sel darah merah. Meskipun seringkali fisiologis dan hilang dengan sendirinya, kuning rumah sakit memerlukan pemahaman yang mendalam untuk memastikan penanganan yang tepat dan mencegah komplikasi yang mungkin timbul.

Bilirubin: Proses Metabolisme dan Penyebab Peningkatan Kadar

Bilirubin adalah produk sampingan dari pemecahan hemoglobin, protein pembawa oksigen dalam sel darah merah. Setelah sel darah merah mencapai akhir siklus hidupnya, ia dipecah, dan hemoglobin diubah menjadi bilirubin. Bilirubin yang dihasilkan pada awalnya adalah “bilirubin tidak terkonjugasi” atau “bilirubin indirek,” yang tidak larut dalam air dan perlu diangkut ke hati.

Di hati, bilirubin tidak terkonjugasi mengalami proses yang disebut konjugasi. Enzim glukuronil transferase menambahkan molekul gula (asam glukuronat) ke bilirubin, mengubahnya menjadi “bilirubin terkonjugasi” atau “bilirubin direk,” yang larut dalam air. Bilirubin terkonjugasi kemudian dikeluarkan dari hati ke dalam empedu, yang selanjutnya diekskresikan ke dalam usus dan akhirnya dikeluarkan melalui feses.

Peningkatan kadar bilirubin yang menyebabkan kuning dapat disebabkan oleh berbagai faktor, yang secara umum dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori utama:

  • Peningkatan Produksi Bilirubin: Ini terjadi ketika ada pemecahan sel darah merah yang berlebihan (hemolisis). Beberapa penyebab hemolisis pada bayi baru lahir meliputi:

    • Inkompatibilitas Golongan Darah ABO atau Rh: Jika ibu dan bayi memiliki golongan darah yang tidak cocok (misalnya, ibu O, bayi A atau B), antibodi dari ibu dapat menyerang sel darah merah bayi, menyebabkan hemolisis.
    • Defisiensi Enzim G6PD: Kekurangan enzim glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD) dapat menyebabkan sel darah merah lebih rentan terhadap kerusakan, terutama saat terpapar obat-obatan atau makanan tertentu.
    • Sferositosis Keturunan: Kelainan genetik yang menyebabkan sel darah merah berbentuk bulat (sferosit) dan lebih mudah pecah.
    • sefalhematoma: Penumpukan darah di bawah kulit kepala bayi akibat trauma kelahiran dapat menyebabkan peningkatan pemecahan sel darah merah.
  • Penurunan Proses Konjugasi Bilirubin: Ini terjadi ketika hati tidak dapat memproses bilirubin tidak terkonjugasi dengan cukup cepat. Beberapa penyebabnya meliputi:

    • Kuning Fisiologis: Pada bayi baru lahir, hati belum sepenuhnya matang dan mungkin tidak dapat memproses bilirubin seefisien mungkin. Ini adalah penyebab paling umum dari kuning pada bayi baru lahir dan biasanya hilang dalam beberapa hari hingga minggu.
    • Sindrom Gilbert: Kelainan genetik yang menyebabkan penurunan aktivitas enzim glukuronil transferase.
    • Sindrom Crigler-Najjar: Kelainan genetik yang sangat langka yang menyebabkan defisiensi total atau hampir total enzim glukuronil transferase.
    • Hipotiroidisme: Kekurangan hormon tiroid dapat memperlambat fungsi hati.
  • Penurunan Ekskresi Bilirubin: Ini terjadi ketika bilirubin terkonjugasi tidak dapat dikeluarkan dari tubuh dengan benar. Beberapa penyebabnya meliputi:

    • Atresia Bilier: Penyumbatan atau tidak adanya saluran empedu, yang mencegah bilirubin terkonjugasi keluar dari hati.
    • Kolestasis: Gangguan aliran empedu dari hati, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk infeksi, kelainan genetik, dan obat-obatan.
    • Penyakit Hati: Kondisi seperti hepatitis dapat merusak hati dan mengganggu ekskresi bilirubin.

Diagnosis Kuning Rumah Sakit: Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium

Diagnosis kuning rumah sakit dimulai dengan pemeriksaan fisik menyeluruh. Dokter akan memeriksa kulit dan sklera bayi untuk melihat tingkat keparahan kuning. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan di bawah pencahayaan yang baik, idealnya cahaya alami. Dokter juga akan mencari tanda-tanda lain yang mungkin menunjukkan penyebab kuning, seperti pembesaran hati atau limpa, memar, atau tanda-tanda infeksi.

Selain pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk mengukur kadar bilirubin dalam darah. Beberapa pemeriksaan laboratorium yang umum dilakukan meliputi:

  • Jumlah Bilirubin: Mengukur jumlah total bilirubin dalam darah.
  • Bilirubin Direk (Terkonjugasi): Mengukur jumlah bilirubin yang telah terkonjugasi oleh hati.
  • Bilirubin Indirek (Tidak Terkonjugasi): Dihitung dari bilirubin total dikurangi bilirubin direk.
  • Golongan Darah dan Rhesus: Untuk memeriksa inkompatibilitas golongan darah ABO atau Rh.
  • Hitung Darah Lengkap (CBC): Untuk memeriksa anemia atau tanda-tanda infeksi.
  • Tes Coombs: Untuk mendeteksi antibodi yang menyerang sel darah merah bayi.
  • Fungsi Hati: Untuk menilai fungsi hati bayi.

Pengelolaan Kuning Rumah Sakit: Terapi dan Pencegahan Komplikasi

Pengelolaan kuning rumah sakit tergantung pada tingkat keparahan kuning, usia bayi, dan penyebab yang mendasarinya. Tujuan utama pengobatan adalah untuk menurunkan kadar bilirubin dalam darah dan mencegah komplikasi yang mungkin timbul, seperti kernikterus.

Beberapa metode pengobatan yang umum digunakan meliputi:

  • Fototerapi: Paparan cahaya biru atau hijau yang mengubah bilirubin menjadi bentuk yang lebih larut dalam air dan dapat diekskresikan melalui urin dan feses. Fototerapi adalah pengobatan lini pertama untuk kuning yang signifikan. Bayi ditempatkan di bawah lampu fototerapi dengan mata ditutup untuk melindungi dari kerusakan.
  • Perubahan Transfusi: Penggantian darah bayi dengan darah donor untuk menurunkan kadar bilirubin dengan cepat. Transfusi tukar biasanya hanya diperlukan dalam kasus kuning yang sangat parah atau ketika fototerapi tidak efektif.
  • Imunoglobulin Intravena (IVIG): Dapat digunakan untuk mengobati kuning yang disebabkan oleh inkompatibilitas Rh atau ABO. IVIG membantu mencegah antibodi ibu menyerang sel darah merah bayi.
  • Pemberian Makan yang Sering: Menyusui atau memberi susu formula bayi secara teratur membantu merangsang buang air besar, yang membantu mengeluarkan bilirubin dari tubuh.
  • Pengobatan Penyebab yang Mendasari: Jika kuning disebabkan oleh kondisi medis lain, seperti infeksi atau kelainan genetik, pengobatan kondisi tersebut akan membantu menurunkan kadar bilirubin.

Kernikterus adalah komplikasi serius dari kuning yang tidak diobati. Ini terjadi ketika bilirubin menumpuk di otak dan menyebabkan kerusakan permanen. Gejala kernikterus meliputi letargi, kesulitan makan, nada otot yang buruk, kejang, dan tuli. Penting untuk mendiagnosis dan mengobati kuning dengan cepat untuk mencegah kernikterus.

Pencegahan kuning rumah sakit melibatkan memastikan bayi mendapatkan nutrisi yang cukup sejak lahir, memantau tanda-tanda kuning, dan mencari perawatan medis jika kuning berkembang. Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan dapat membantu mencegah kuning dengan meningkatkan buang air besar dan mengeluarkan bilirubin dari tubuh.

Dengan pemahaman yang komprehensif tentang penyebab, diagnosis, dan pengelolaan kuning rumah sakit, tenaga medis dapat memberikan perawatan yang optimal dan mencegah komplikasi yang berpotensi serius pada bayi baru lahir. Pemantauan ketat dan intervensi dini adalah kunci untuk memastikan hasil yang positif bagi bayi dengan kuning.